Media Guru

Jika anak dibesarkan dengan celaan maka ia belajar memaki, Jika anak dibesarkan dengan permusuhan maka ia belajar berkelahi, Jika anak dibesarkan dengan cemoohan maka ia belajar rendah diri, Jika anak dibesarkan dengan penghinaan maka ia belajar menyesali diri, Jika anak dibesarkan dengan toleransi maka ia belajar menahan diri, Jika anak dibesarkan dengan dorongan maka ia belajar percaya diri, Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan maka ia belajar keadilan, Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan maka ia belajar menemukan cinta kasih dalam kehidupan (Dorothy Law Nalite)

Sunday, January 25, 2009

Siswa Bodoh, Siapa Yang Salah?

Sejalan dengan teori Multiple Intelligence, Semua anak pada dasarnya terlahir dengan potensi menjadi jenius. Masing-masing anak mempunyai keunggulan di aspek kecerdasan yang berbeda.Setiap anak mempunyai keunikan dan kepribadian dalam gaya belajar. Ada tiga gaya belajar yang sangat dominan yaitu gaya belajar Visual, gaya belajar Auditori dan gaya belajar Kinestetik. Sudahkah guru mengajar yang sesuai dengan kepribadian dan gaya belajar murid?


        Jika seorang guru ditanya tentang salah seorang siswanya yang prestasi akademiknya kurang, maka jawaban guru tersebut biasanya adalah “memang anaknya bodoh” atau, “orang tuanya berpendidikan rendah dan mungkin orang tuanya kurang perhatian”. Jawaban seperti itu sudah lazim diucapkan guru, tetapi benarkah siswa tersebut bodoh?, benarkah kurangnya pendidikan dan perhatian dari orang tua berpengaruh terhadap prestasi akademik siswa?. Tidak etis kiranya jika kurangnya prestasi akademik siswa mutlak karena kesalahan siswa dan orang tua. Maka sebagai seorang guru yang dituntut untuk profesional tidak selayaknya berkata demikian.

        Kurangnya prestasi akademik siswa hendaknya menjadi dasar seorang guru untuk mengintrospeksi dirinya, apakah sudah benar cara guru mengajar, pemilihan metode pembelajaran, dan penggunaan sarana prasarana yang ada (media). Sebenarnya Prestasi akademik siswa yang rendah sering kali disebabkan karena guru tidak mengerti cara mengajar yang benar, yang sesuai dengan kepribadian dan gaya belajar siswanya. Biasanya seorang guru cenderung selalu menggunakan metode pembelajaran ceramah yang berakibat baik bagi siswa yang memiliki gaya belajar auditori dan berakibat buruk bagi siswa yang memiliki gaya visual dan gaya kinestetik demikian juga sebaliknya jika gaya belajar yang dilakukan seorang guru cenderung hanya pada satu metode, maka hal tersebut menyebabkan pembelajaran yang dilakukan guru tidak menyenangkan dan membosankan bagi masing-masing siswa. Sering kali seorang guru memberi cap pada muridnya dengan kata-kata nakal, bodoh, malas, penganggu dll. Hal tersebut terjadi karena siswa yang tidak tertarik oleh gaya mengajar yang dilakukan guru, cenderung melakukan hal-hal yang menurut dia enjoy dan menyenangkan.

        Siswa yang tidak dapat mengikuti gaya belajar yang dilakukan guru akan mengalami kesulitan belajar yang berakibat pada pencapaian prestasi akademik yang rendah. Pencapaian prestasi akademik yang rendah dan berlangsung berulang kali maka dapat dipastikan siswa benar-benar menjadi bodoh, sebenarnya bukan karena siswanya bodoh namun lebih karena mereka tidak dapat mengikuti dan memahami apa yang dilakukan guru.

         Satu hal yang harus di pahami dan sadari, tidak semua siswa mempunyai tingkat intelektual tinggi. Kemampuan setiap siswa menangkap materi pelajaran yang disampaikan berbeda-beda. Setiap siswa memiliki daya nalar yang berbeda. Respon mereka terhadap materi yang disampaikan guru ada yang cepat dan ada pula yang lambat. Memaksa dan memarahi siswa terus menerus, menghukum siswa, dan memvonis dengan kata-kata tidak akan menyelesaikan masalah malah bisa-bisa akan menimbulkan masalah baru.

        Dari hal-hal yang dijelaskan diatas, banyak hal yang perlu dilakukan oleh guru demi peningkatan prestasi akademik muridnya. Beberapa hal yang dapat dikakukan diantaranya adalah

1. Memahami betul tentang kurikulum, hal ini sangat penting sekali untuk mengetahui tujuan yang akan dicapai dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Kurangnya pemahaman seorang guru terhadap kurikulum berakibat pembelajaran yang dilakukan akan kehilangan arah dan tujuan.

2. Menggunakan Multi Metode, dengan menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi
diharapkan dapat mengakomodasi semua gaya belajar murid dalam satu proses belajar mengajar. Misalnya dalam satu proses belajar mengajar guru bisa menggunakan metode ceramah, pengamatan dan demonstrasi.

3. Menggunakan Multi Media, penggunaan media pembelajaran yang bervariasi dalam setiap proses pembelajaran dapat memberikan stimulus pada siswa untuk tertarik pada pelajaran yang sedang kita ajarkan

4. Melakukan Asesmen (penilaian) dengan benar sesuai dengan tingkatan kemampuan yang dimiliki siswa, jangan sampai terjadi seorang guru melakukan penilaian dengan cara mengarang biji (ngaji). Penilaian harus sesuai dengan ranah afektif, ranah kognitif, dan ranah psikomotor.

5. Melakukan PAKEMI ( Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif Menyenangkan dan Inovatif ) Dengan melakukan langkah-langkah diatas mudah-mudahan dapat memberikan apresiasi pada semua guru. Diharapkan guru senantiasa mengupdate kemampuan dan pengetahuannya,  jangan sampai dari jaman dulu hingga sekarang yang dilakukan hanya itu-itu saja. Ingat     bahwa siswa berbeda dan pengetahuan selalu berkembang, maka guru juga harus melakukan perubahan dan inovasi jangan ada kata tidak bisa untuk sebuah perubahan. Jadi tidak ada lagi guru yang selalu menyalahkan siswa dan orang tuanya. “Selamat menjadi guru yang Profesional”.

Ditulis Oleh Onny Rudianto

3 comments:

  1. Sepertinya metode-metode yang disebutkan diatas adalah sebuah kondisi ideal yang menjadi harapan kita semua dimana lahir seorang guru yang profesional yang dapat membentuk murid-murid yang cerdas sesuai dengan bidang kecerdasannya masing-masing.

    Mudah-mudahan suatu hari nanti bapak/ibu guru kita bisa menjadi guru-guru yang profesional.

    Ada sebuah guyonan yang muncul dalam benak saya tentang Barack Obama yang pernah sekolah di Indonesia.

    Mungkin jika Barack Obama besar dan sekolah sampai selesai di Indonesia tidak akan menjadi seperti sekarang ini :)

    ReplyDelete
  2. Terima kasih Pak komentarnya, saya setuju dengan pendapat bapak. memang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa diperlukan guru yang benar-benar profesional.

    ReplyDelete
  3. anak saya kelas 4 dibilang bodoh oleh guru-gurunya,padahal hampir disetiap mid/semester selalu 10 besar, anak saya sampai mengira dirinya benar2 bodoh.saya setuju pendapat bapak tidak ada siswa yang bodoh,tolong para guru lebih banyak belajar keadaan siswa bukan siswa dipaksa mengerti keadaan guru.

    ReplyDelete